Mendidik anak (1)

Seorang anak menjadi sukses adalah impian setiap orang tua. Sayangnya, banyak orang tua yang menginginkan anaknya sukses “dari awal”. Akibatnya, anak-anak dipaksa belajar sesuatu yang belum sejalan dengan perkembangan  daya motorik, sensorik, dan mental mereka.

Anak-anak yang di paksa belajar sesuatu yang sesuai dengan perkembangannya, memang keliatan lebih menonjol di awalnya, tetapi jangka panjang, akan mengakibatkan stress pada anak, yang menyebabkan lebih banyak dampak negatif dari pada dampak positifnya.

Selain mengikutkan anak pada sekolah, mendidik dapat di lakukan orang tua di rumah yang juga memberikan dampak yang cukup bagus, yaitu meningkatkan ikatan batin orang tua dan anak. Mendidik anak memang harus di lakukan dari dini, tetapi tanpa paksaan dan disesuaikan dengan perkembangannya.

Di awal pertumbuhan anak (dari lahir sampai sekitar memasuki masa sekolah dasar),  amatlah penting melatih kemampuan fisiknya yaitu sensorik dan motoriknya, agar mereka bisa mengintegrasikan kemampuan tubuh mereka. Ini dapat di lakukan melalui permainan, dan olah raga ringan. Di masa-masa ini pula, kecerdasan anak juga turut berkembang, oleh karena itu, permainan dan olah raga ringan itu juga harus di buat se-kreatif mungkin sehingga membangkitkan fantasi mereka, yang kemudian akan meningkatkan kreativitas dan kecerdasan anak.

Banyak “permainan kuno” atau permainan yang amat popular di masa muda penulis yang kelihatannya “ndeso”, tapi sebenarnya sangat besar manfaatnya. Misal aja main sembunyi-sembunyian, engkle, gobaksodor, dakon, kelereng, dll. Selain melatih fisik anak, juga memupuk rasa persaudaraan dengan sesamanya, sesuatu yang permainan modern seperti playstation, ipad, dll tidak bisa melakukan. Meski terlihat sebagai permainan fisik, permainan itu sebenarnya juga merangsang daya imajinasi anak.

Tulisan ini murni pendapat pribadi. Tidak mengutip buku manapun. Tulisan ini hanyalah bentuk keprihatinan penulis akan maraknya permainan elektronik yang membuat anak larut dalam dunianya sendiri, kurang gerak, dan kurang sosialisasi. (lihat saja, jaman kita dulu mana ada anak kelas 4 sekolah dasar pakai kacamata, sekarang bisa bisa separuh kelas berkacamata)

Sekian dan terima kasih

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>